Filosofi Bhinneka Tunggal Ika
12/02/2016
Islam Tidak Mengenal Konsep Mayoritas-Minoritas
12/19/2016

Nabi: Perintis Toleransi

Relasi antar umat beragama bukan hal asing bagi Nabi. Banyak contoh sejarah yang dilakukan Nabi sangat menakjubkan. Ia banyak di­tolong dan menolong agama lain. Ketika Nabi masih rem­aja melakukan misi perda­gangan ke Syria (Syam). Di sana ia bertemu seorang pendeta yang melihat tanda-tanda ajaib di bahu Mu­hammad. Sang pendeta memintanya agar lebih baik segera kembali karena anak ini kelak akan menjadi orang besar, menjadi Nabi.

Peristiwa lain ketika Nabi baru saja mendap­atkan wahyu pertama di Gua Hira, ia dipertemu­kan dengan seorang pendeta kenalan istrinya, dan sang pendeta menerjemahkan pengala­man Muhammad sebagai awal dari misi kena­biannya. Nabi Muhammad sejak awal kenabi­annya sudah akrab dengan pendeta.

Ia juga sering memberi perlindungan terhadap agama-agama lain, termasuk melindungi para tokoh-tokohnya. Konsep Darus Salam untuk nonmuslim kooperatif dan Darul Harbi untuk nonmuslim tidak kooperatif, merupakan konsep yang amat strategis yang tidak pernah diterapkan oleh etnik sebelumnya. Orang-orang yang beragama lain yang tidak memusuhi Nabi harus diberi per­lindungan. Hanya orang-orang nonmuslim dan munafikun yang selalu mengangkat senjata ter­hadap Nabi yang dihadapi dengan ketegasan. Bahkan Nabi ketika menjalankan misi perang sekalipun, tidak membolehkan membunuh anak-anak, orang-orang tua (‘ajuz), perempuan, tidak boleh meru­sak dan membakar rumah ibadah, tidak boleh mencabut atau mematahkan ranting pepohonan, serta menghancurkan benda-benda budaya la­wan. Kalau lawan sudah angkat tangan maka tidak boleh lagi diperangi.

Menarik untuk kita kaji, Nabi pernah mengangkat panglima seorang anak muda yang bernama Usamah, relatif masih di bawah 20 tahun. Suatu ketika ia menjebak seorang musuh sehingga ter­pojok lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia dilaporkan kepada Nabi oleh sahabat terten­tu mengenai kejadian ini. Nabi memanggil Usa­mah dengan marah dan bertanya kenapa ia membunuh orang yang sudah bersyahadat? Dijawab oleh Usamah dengan mengatakan ia bersyahadat karena terpaksa, hanya ingin cari selamat. Nabi menjawab, sebagaimana dikutip di dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik: Nahnu nahkumu bi aldhawahir wa Allahu yatawal­la al-sarair (Kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah menentukan apa yang tersem­bunyi di dalam hati). Hadis ini amat penting diak­tualkan maknanya dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia tercinta.

Amat banyak pelajaran penting dari Nabi soal ini. Pelajaran penting yang diperoleh dari hadis ini ialah bila seseorang sudah bersyahadat dengan benar, tidak perlu lagi dihakimi dengan kekerasan karena secara formal orang itu su­dah muslim. Tugas berikutnya ialah bagaima­na mengislamkan mereka secara utuh. Banyak lagi hadis yang dapat ditemukan yang meng­gambarkan bagaimana Nabi penuh toleransi terhadap mukallaf. Bahkan termasuk memberi­kan zakat sekalipun ia kaya. Orang mukallaf ialah orang yang sudah bersyahadat. Apapun isi hatinya, itu urusan Allah. Kita jangan mengu­rus sesuatu yang menjadi hak prerogatif-Nya, nanti akan merepotkan diri sendiri.

Nabi juga banyak menyelesaikan konf­lik antara petani dan pemilik atau pengendali pengairan, menyelesaikan masalah pascapanen, me­nyelesaikan persoalan okulasi penanaman korma, menyelesaikan masalah kewarisan, harta pungutan, perkawinan antarumat beragama, dan persoalan pertetanggaan antarkabilah. Bahkan konflik negara-negara besar sesama nonmuslim juga meminta jasa Nabi untuk me­nyelesaikannya. Jadi Nabi Muhammad saw betul-betul sebagai Nabi yang layak disebut se­bagai Bapak Perdamaian, Bapak HAM, Bapak Kemanusiaan, dan Bapak Pembebasan.

Minggu, 18 Desember 2016

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah