Islam dan Kesehatan Masyarakat
05/14/2017
Shema
05/14/2017

Pengaruh Jalauddin Rumi di Indonesia

Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) atau Rumi, seorang sufi sejati yang memiliki hubungan psikologis dengan Indonesia. Dalam hitungan bulan, Amazon.com, toko buku online terbesar di dunia menampilkan karya lebih dari 100 judul buku baru tentang Rumi. Beberapa di antaranya ikut meramaikan buku-buku bestseller di AS dan Eropa, bersanding dengan karya Deepak Chopra, Dalai Lama, dan buku Chicken Soup. Pada tahun 1997,  Rumi ditempatkan sebagai penyair terlaris di AS oleh tabloid terkenal Cristian Science Monitor. Laporan BBC.com beberapa tahun lalu melihat kecenderungan karya Rumi akan menjadi lifestyle menggantikan gerakan New Age yang sudah usang. Bahkan R.A.Nocholson menyatakan: Maulana Jalaluddin Rumi as the greatest mystic poet of any age”.

Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Maurice Barres asal Perancis. “Setelah berkenalan dengan puisi-puisi Rumi, maka pada saat itu saya menyadari kelemahan-kelemahan karya Shakesper, Gothe, dan Hugo”. Sementara Muhammad Iqbal menilai Matsnawi, karya Rumi,  sebagai “Al-Qur’an” yang berbahasa Persia.

Buku-buku yang berbahasa Indonesia ditemukan lebih dari 30 judul buku dan ratusan artikel yang pernah dimuat dalam jurnal dan surat kabar. Yang ditulis oleh orang asing kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, antar lain karya: W.Chittck, S.H.Nasr, A.Nicolson, Annemarie Schimmel, Leslie Wines, A.J.Arberry, Nigel Watts, Syamsuddin Ahmad al-Aflaky, dan Abul Hasan Ali Nadwi. Di perguruan tinggi Indonesia terdapat banyak tesis dan disertasi yang menjadikan karya-karya Rumi sebagai objek penelitian. Ada yang menekankan pada aspek ajaran tasawuf, ada aspek filsafat, aspek seni, dan karya satra monumentalnya, Matsnawi.

Para penganjur Islam di Indonesia seperti Wali Songo dan penganjur Islam lokal lainnya di kepulauan Nusantara, banyak menggunakan metode dakwah Rumi. Wajar bila komunitas  pengikut Rumi dan umat Islam Indonesia memiliki persamaan, yaitu sama-sama toleran, terbuka kepada budaya lokal, dan agama-agama di luar Islam. Masyarakat Islam Indonesia dan Turki juga memiliki pandangan yang sama dalam soal seni. Kedua negara memberi ruang lebar kepada seni dan peradaban lokal.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta