Nasaruddin Umar: “Istiqlal Simbol Pemersatu Bangsa, Kiblat Peradaban”
01/28/2016
Jangan Memaki-maki Orang Dalam Khotbah
11/03/2016

Prof. Nasaruddin Umar: Makna Penting Isra Mi’raj Bagi Bangsa

Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa bersejarah di kalangan umat Islam. Setiap tanggal 27 Rajab umat Islam di Indonesia biasanya mengenang peristiwa ajaib yang dialami Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril tersebut.

Dalam memperingati Isra Mi’raj, banyak hikmah yang dapat umat Islam petik, terutama dalam konteks keindonesiaan. “Hikmah Isra Mi’raj itu bagi manusia yang sangat pluralistik seperti ini sangat penting. Manusia Indonesia harus menghayati Isra Mi’raj karena kalau tidak Bhinneka Tunggal Ika itu akan rusak,” kata Imam besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar. Berikut wawancara lengkap Republika bersama Prof Nasaruddin Umar, Selasa (26/4).

Apa hikmah besar Isra Mi’raj?

Di dalam surah Al-Isra’ ayat 1 menarik untuk kita kaji karena termasuk salah satu ayat yang diawali dengan Maha Suci Allah. Semua ayat yang diawali dengan kata subhanallah itu pasti ada sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal, tapi harus dicerna dengan keyakinan. Isra Mi’raj itu peristiwa vertikal dari alam syahadah (nyata) ke alam ghaib, hingga sampai ke puncak Sidratul Muntaha.

Peristiwa tersebut dilakukan oleh seorang hamba yang dipilih oleh Allah, Nabi Muhammad SAW, dalam rangka berjumpa dengan-Nya dan saat pulang beliau membawa oleh-oleh yang berharga, yaitu shalat. Shalat itu oleh-oleh yang berharga yang harus didirikan untuk mengingat Allah, sehingga dapat menenangkan batin.

Hampir semua peristiwa spiritual itu dilakukan di malam hari, seperti Isra Mi’raj ini juga terjadi di malam hari. Begitu juga pada saat ayat pertama turun ke bumi juga terjadi di malam hari, dan kebanyakan ayat lainnya juga turun di malam hari, bukan di siang hari. Tidak hanya itu, kebanyakan shalat yang difardhukan juga ada di malam hari, hanya Zhuhur dan Asar yang di siang hari. Peristiwa-peritiwa tersebut terjadi di malam hari, karena malam hari akan membuat kualitas emosi kita bisa menjadi sangat potensial. Sementara, di siang hari itu rasionya berat.

Isra Mi’raj adalah latihan untuk mengkhususkan diri kita dalam mengenang dua peristiwa yang sangat penting, di mana anak manusia bisa menembus langit bahkan melampuinya dalam kondisi yang masih hidup. Dia tidak tinggal di sana, dia turun lagi ke bumi. Dalam hal ini, dia melangit untuk membumi dalam rangka mengangkat umat Islam ini setinggi langit.

Jadi, Nabi Muhammad SAW datang lagi ke bumi untuk membuat kita bisa melangit. Jadi istilahnya, membumikan untuk melangitkan. Jadi, salah satu hikmah Isria Mi’raj itu adalah untuk menjinakkan jiwa dan pikiran kita agar dapat mengendalikan nafsu, sehingga nafsu tidak mendikte hidup kita dalam menjalani kehidupan.

Apa nilai-nilai Isra Mi’raj yang dibutuhkan bangsa kita hari ini?

Kita harus belajar untuk naik ke atas. Orang yang tidak pernah naik ke atas, berarti akan hidup di bawah tempurung yang di atasnya, di kanannya, atau dikirinya selalu ada tembok. Jadi, kalau kita terkurung di dalam tempurung itu, maka kita akan selalu sibuk membicarakan perbedaan atau pertentangan.

Tapi, kalau kita sudah naik ke atas maka tidak akan ada lagi perbedaan di situ. Jika masih ada ada dalam tempurung tersebut maka masih akan menganggap Timur, Barat, Utara dan Selatan, tapi begitu ke luar angkasa maka semuanya menjadi satu dan kita akan merasa sangat kerdil dan sangat kecil, sehingga kita bisa introspeksi untuk melakukan yang terbaik untuk bangsa ini.

Dengan demikian, saat memperingati peringatan Israj Mi’raj ini kita dapat mencari titik temu antara satu komponen bangsa dengan komponen lainnya. Kita tidak akan lagi mempertentangkan satu malam lain, sedangkan kebanyakan makhluk bumi itu kerjaannya mempertentangkan perbedaan, tapi manusia langit kerjaannya mempertemukan.

Jadi, hikmah Isra Mi’raj itu bagi manusia yang sangat pluralistik seperti ini sangat penting. Manusia Indonesia harus menghayati Isra Mi’raj, karena kalau tidak Bhinneka Tunggal Ika itu akan rusak. Jadi, Isra Mi’raj itu adalah untuk melakukan revitalisasi Isra Mi’raj.

Bagaimana mengimani kejadian Isra Mi’raj?

Kita harus mengimani Isra Mi’raj karena sebetulnya itu tidak bisa masuk akal. Tapi, yang tidak masuk akal itu bukan berarti tidak ada karena kalimat subhanallah dalam Surah al-Isra’ itu memang menyimbolkan sesuatu yang tidak bisa dinalar, sama halnya dengan kematian atau jodoh, tidak bisa dilogikakan.

Aspek transendensinya Isra Mi’raj itu perlu ditekankan di sini. Karena jika dirasionalkan, selain tidak mungkin, nanti akan terjadi desakralisasi terhadap Isra Mi’raj. Artinya, jika segala sesuatu harus dirasionalkan baru kita bisa yakini, maka rukun iman itu juga akan bermasalah.  Saya kira Isra Mi’raj itu juga latihan keimanan, yaitu bagaimana mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi secara keagamaan wajib kita yakini dan imani, karena Isra Mi’raj itu ada efeknya.

Jadi, aspek-aspek yang harus diyakini dalam Isra Mi’raj itu ada dua dimensi, yaitu pertama perjalanan horizontal yang bisa dirasionalkan dan diukur. Kedua, yaitu perjalanan dari Palestina ke atas yang tidak bisa dirasionalkan. Jadi, itu perlu dikaji lebih mendalam.

Apalagi, Surah Al-Isra’ itu diapit oleh dua surah yang sangat mendukung, yaitu surah An-Nahl dan Surah Al-Kahfi. Surah An-Nahl adalah surah tentang kecerdasan intelektual, yang berarti lebah yang kata Allah dapat mengobati seluruh penyakit. Sementara, dalam Surat Al-Kahfi terdapat kecerdasan spiritual tentang Nabi Khidr, yang tidak bisa masuk akal.

Jadi, satu sisi Isra Mi’raj itu bisa dinalar yaitu Isra-nya, tapi pada sisi lainnya Mi’raj-nya itu harus diyakini. Isra Mi’raj itu separuh wilayah spiritual. Jadi, pada ujungnya harus diimani.

Apa makna shalat yang langsung disyari’atkan oleh Allah dalam mi’raj?

Shalat itu sebenarnya adalah latihan untuk mendaki ke puncak. Orang yang tidak pernah mendaki ke puncak, dia akan terkungkung di bawah kungkungan tempurung kehidupan. Tentu kalau orang yang sering shalat itu dia akan melihat dari ketinggian.

Dan semakin dunia ini dilihat secara luas, akan semakin membuat kita tidak angkuh dan sombong. Jadi, orang yang sering shalat itu mestinya tidak boleh juga mewarisi keangkuhan dan egosime. Jadi, orang yang rajin sujud itu akan mempunyai bekas-bekas dalam kehidupan.

Jadi, yang dimaksud bekas hidup itu bukan bekas hitam di dahinya. Tapi, kalau ada orang yang sengaja menghitamkan di dahinya itu, justru malah dosa karena merusak keindahan bikinan Allah SWT. Jadi, bekas hidup itu artinya bagaimana kita hidup bertetangga, bagaimana memperlakukan orang lain di sekeliling kita, dan bagaimana menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi, Isra’ mi’raj itu mengharapkan Insan Kamil.

Sumber: republika.co.id