Nasaruddin Umar: Kita Punya Negara Ideal dan Bagus, Jangan di Acak-acak
06/07/2017
Masjid Sebagai Rumah Kemanusiaan
06/11/2017

Psikologi Mayoritas-Minoritas

Siapapun yang berada di dalam komunitas mayoritas, sering kali alam bawah sadarnya merasa lebih percaya diri, bahkan terkadang terlalu percaya diri  sehingga lupa mengontrol diri dan sadar jika di sampingnya ada hamba Tuhan yang berada dalam posisi minoritas. Akibatnya,  sadar atau tidak sadar, mereka melakukan suatu sikap mengecilkan orang-orang minoritas. Sebaliknya siapa pun yang berada di dalam kelompok minoritas sering kali alam bawah sadarnya merasa kurang percaya diri untuk mengekspresikan secara penuh potensi dirinya karena ia merasa kecil di tengah jumlah yang besar. Akibatnya, sadar atau tidak sadar, ia merasa selalu merasa di bawah bayang-bayang kelompok mayoritas. Ia sering merasa diri “tidak layak” untuk mengakses secara penuh  seperti apa yang bisa dilakukan oleh kelompok mayoritas. Psikologi seperti ini sesungguhnya cenderung negatif, apalagi ajaran agama dan konstitusi negeri kita tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas.

Dalam Islam, istilah mayoritas (aktsariyyah) dan minoritas (aqaliyyah) tidak pernah dipopulerkan di dalam Al-Qur’an dan hadis.  Kalaupun disinggung persoalan ini hanya sebagai peringatan bahwa kelompok mayoritas tidak boleh sombong dan lupa diri. Sebaliknya kelompok minoritas tidak boleh merasa berkecil hati atau dikucilkan, sebab sedikit atau banyak, sepanjang  itu adalah manusia, maka sama saja, wajib dimuliakan sebagaimana disebutkan dalam ayat: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al-Isra’/17:70). Dalam ayat lain dikatakan: Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32).

Istilah mayoritas-minoritas dalam Al-Qur’an bukan hanya mengacu kepada kuantitas dalam arti terbatasnya jumlah tetapi juga terbatasnya kualitas. Boleh jadi dalam suatu saat ada golongan termasuk minoritas secara kuantitas tetapi mayoritas atau dominan di dalam masyarakat. Sebaliknya ada golongan mayoritas secara kuantitatif tetapi minoritas secara kualitatif, misalnya disebutkan dalam ayat: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. al-Baqarah/2:249). Ada golongan mayoritas secara kuantitatif dan secara kualitatif dan ada golongan minoritas secara kuantitatif dan kualitatif, misalnya disebutkan dalam ayat: Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Anfal/8:26).

Bahkan Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa wacana, isu, dan sekaligus solusi mengatasi problem relasi mayoritas-minoritas sudah disebutkan di dalam beberapa ayat, antara lain: Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Q.S. al-Waqi’ah/56:13-14). Al-Qur’an juga sudah mengisyaratkan relasi antar golongan di dalam masyarakat, harus diambil manfaatnya dengan cara menekankan aspek “pertemuan” (encounters), bukannya menekankan aspek negatif (conflict), sebagaimana diisyaratkan di dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Fibrian Yusefa Ardi