Politisasi Ayat dan Hadis
04/27/2018
Satgas Nusantara 2018 Gelar Tabligh Akbar di Poso
05/01/2018

Sabar sebagai Bentuk Kematangan Spiritual

Ibn Hajar al-‘Asqallani sangat populer sebagai ulama besar, terutama dalam bidang hadits. Dialah yang meng-syarah atau memberikan anotasi terhadap Kitab Shahih al-Bukhari yang disusun Imam Bukhari yang terkenal itu. Ia meninggalkan desanya menuju Kota Mesir untuk menuntut ilmu. Sekian lama di sana, ia tidak merasa pintar dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampungnya. Dalam perjalanan ia memotong gunung dan melintasi padang pasir. Karena kelelahan ia mampir beristirahat di dalam gua. Di dalam gua itu ia merenungi nasibnya sebagai orang yang gagal. Dalam keadaan bersedih ia menyaksikan tetesan air terus menerus dari stalagtit. Entah berapa lama tetesan itu terjadi sehingga membuat lubang di dalam batu yang ada di bawahnya. Dari situ ia belajar bahwa air yang sedemikian lembut pun berhasil melubangi batu cadas. Bagaimana dengan dirinya? Akhirnya ia mengurungkan niatnya pulang ke desanya dan memutuskan untuk kembali ke Mesir. Dengan semangat membatu ia berhasil lulus dengan berbagai prestasi istimewa diraihnya. Namanya pun diabadikan sebagai Ibnu Hajar (Putra Batu), yang diambil dari pengalamannya menyaksikan batu cadas di dalam gua.

Sabar adalah salah satu anak tangga yang mesti dilalui oleh orang-orang yang mendambakan keberuntungan, termasuk keberhasilan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sabar dalam Al-Qur’an tidak identik dengan pendiam, atau tidak melawan ketika dianiaya. Substansi sabar ialah melakukan pengendalian diri di saat kita memiliki kemampuan. Kemampuan untuk mencekal berbagai keinginan nafsu di saat kita memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, kita memiliki uang untuk membeli sesuatu tetapi nurani memberikan bisikan bahwa tidak etis membeli sesuatu itu di saat tetangga di sekitar kita sedang menderita. Kita memiliki kemampuan untuk membalas tetapi kita maafkan orang itu. Kita menekan amarah dan mengembalikan segala persoalan kepada Allah Swt. Sabar selalu banyak ujiannya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Baqarah/2:155(.

Sabar yang sesungguhnya ialah kemampuan untuk mempertahankan kesabaran di tengah ujian-ujian itu. Sabar seperti inilah yang dapat mengundang anak tangga berikutnya yang kita kenal dengan wara’, yakni sikap proteksi diri yang amat tinggi terhadap dosa dan maksiyat. Orang-orang yang berhasil mempertahankan kesabaran sebagai sikap hidupnya maka mereka akan senantiasa bersama dengan Allah Swt. Orang-orang yang sabar akan memperoleh keutamaan-keutamaan dari Allah Swt.

Secara umum, sabar bisa dibagi dalam tiga bagian. Pertama, sabar di dalam melakukan ketaatan, baik ketaatan yang bersifat fardhu atau wajib maupun ketaatan untuk menjalankan sesuatu yang bersifat sunnah. Kedua, sabar di dalam menjauhi dosa dan maksiyat. Ketiga, sabar di dalam menerima cobaan Allah Swt., misalnya cobaan dalam bentuk musibah, kekecewaan, atau penyakit.

Ujung dari setiap kesabaran adalah kebahagiaan. Oleh karena itu kita tidak perlu menjalani hidup ini dengan pesimistis. Kita diminta untuk selalu optimistis dan bekerja sebaik-baiknya:

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. al-Taubah/9:105).

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Fibrian Yusefa Ardi