Benarkah Parpol Dianggap Gagal Tuntaskan Masalah Bangsa?
04/29/2017
Islam dan Kesehatan Masyarakat
05/14/2017

Seni dan Sufi

Seni di dalam kehidupan sufi seolah merupakan bagian yang tak terpisahkan. Hampir semua sufi mencintai bahkan menjadi praktisi seni. Sebutlah nama Jalaluddin Rumi seorang sufi yang seniman atau seniman yang sufi. Ia bukan hanya mencintai seni tetapi ia juga menjadi praktisi seni. Ia menguasai berbagai jenis alat musik. Mulai dari alat tiup seperti seruling sampai berbagai jenis gendang.

Salah satu karakteristik sufi ialah kehalusan budi pekerti. Para sufi terkenal dengan rasa tawadhu dan kebaikan hatinya. Untuk sampai pada tingkat keindahan budi pekerti dan kehalusan batin, para sufi memerlukan alat bantu secara eksternal. Misalnya di antara mereka mengasah kehalusan budi pekerti mereka dengan menggubah syair, doa, dan munajat. Goresan pena sufi banyak sekali menggores hati para pembacanya. Mereka menulis dengan hati, berucap dengan hati, berprilaku dengan hati, dan tentu saja beribadah dengan hati. Apa pun dikerjakannya dengan hati.

Proses pembatinan sebuah tindakan dan prilaku sangat penting bagi para sufi, karena menurut mereka, kullu ma kharaja min al-qalb waqa’a fi al-qalb (segala sesuatu yang keluar dari hati sanubari akan muncul di dalam hati sanubari). Sebaliknya, sebuah perbuatan dan pernyataan yang lahir dari spontanitas, tidak melalui proses pembatinan, maka biasanya itulah yang masuk di telinga kanan keluar dari telinga kiri. Orang tua kandung bahasanya tidak ilmiah dan bahkan bersahaja tetapi membekas di hati karena semuanya diungkapkan dengan cinta dan rasa.

Para sufi biasanya lebih bersikap terbuka pada dunia seni. Itulah sebabnya para sufi lebih banyak memiliki hati dan dada yang lapang karena energi seni terlalu kuat berpengaruh di dalam dirinya. Namun perlu dicatat bahwa seni yang digemari para sufi ialah seni yang mengajak diri untuk bersikap lembut dan halus; seni yang mampu membangkitkan rasa cinta terhadap Sang Khaliq, dan seni yang menjurus kepada pencahayaan hati nurani. Mereka tidak mentolerir kesenian yang mengajak kepada kesenangan hawa nafsu, membangkitkan nafsu birahi, dan ambisi kekuasaan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta