Pengaruh Jalauddin Rumi di Indonesia
05/14/2017
Menghindari Kekerasan
05/27/2017

Shema

Shema ialah zikir yang diiringi alunan musik dan tari memutar yang biasa juga dikenal dengan tari sufi (whirling darwishes). Shema sudah lama menjadi ciri khas Kota Konya, kota di mana Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), dimakamkan dan di atas makamnya tertulis: al-Imam al-Auliya’ (imam para wali). Shema bukan sekedar musik dan tari, bukan pula sekedar hiburan dan tontonan, tetapi lebih merupakan upacara ritual.

Shema merupakan ungkapan rasa cinta yang amat mendalam di dalam hati kepada Sang Kekasih, sehingga sang pencinta dan Yang Dicintai seolah-olah menyatu, larut, dan hanyut seiring dengan alunan musik yang diiringi tarian. Alat-alat musik yang dominan adalah seruling bambu. Sebuah seruling baru dapat menghasilkan bunyi yang merdu jika di dalamnya terbebas dari sumbatan. Sama dengan kalbu, tidak akan melahirkan kesucian jika di dalamnya terdapat kotoran, dan hanya dengan kalbu yang bening yang dapat berjumpa (liqa) dengan Tuhan. Bunyi gendang atau tambur diilustrasikan sebagai  perintah suci (divine order) “Kun=Jadilah”, maka ciptaan suci menyerupai sang Maha Suci terjadi. Syair-syair dalam lagu diawali dengan pujian terhadap Rasulullah (Nat-i Serif) sebagai lambang cinta sejati, sebagaimana pula nabi-nabi sebelumnya. Memuji mereka berarti memuji Tuhan yang menciptakan mereka. Keseluruhan paduan indah irama musik, lagu, dan gerakan lembut yang berputar merupakan persembahan suci (ta’dhim) yang kemudian menghasilkan nafas suci (The Divine Breath) dalam kehidupan ini.

Kombinasi pakaian yang terbentuk dari bahan putih kemilau semula dibungkus dengan bahan berwarna hitam-gelap. Setelah satu persatu melakukan sungkeman (tawajjuh) kepada seorang Syekh yang didampingi seorang Mursyid, para penari yang umumnya berjumlah 25 orang duduk membanjar di sebelah kiri Syekh. Sambil musik mengalun, perlahan-lahan mereka melepaskan jubah hitam, sebagai simbol pelepasan segala dosa dan maksiyat dan yang tertinggal  adalah warna putih.

Setelah itu, satu persatu berdiri berbaris lembut menghampiri Syekh. Selepas melakukan penghormatan kedua kali terhadap Syekh maka satu persatu mereka mulai berputar seperti gasing. Tangan kanan lurus ke samping dengan telapak tangan menengadah ke atas sebagai simbol hamba (‘abid) yang memohon kedekatan diri kepada Sang Khalik, sementara tangan kiri lurus ke samping menengadah ke bawah sebagai simbol khalifah, yang menyalurkan kasih kepada para makhluk lainnya. Kaki kiri seolah menancap (istiqamah) sambil berputar di tempat dan kaki kanan yang sering terangkat sambil berputar. Pakaian yang mirip rok panjang melebar bagai kipas yang terhampar. Semuanya ini memiliki makna.

(Makna dalam Shema akan diuraikan dalam artikel lain – ed)

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri, Syarif Hidayatullah