Mewaspadai Isu Takfiri
02/10/2017
Islam dan Dunia Seni
02/22/2017

Tujuh Fungsi Masjid*

DCIM100MEDIADJI_0870.JPG

I. Tempat Rekreasi Spiritual

Jika rekreasi di ambil dari kata: re dan creatin (Inggeris) maka artinya ialah menyegarkan kembali sesuatu yang tidak produktif menjadi peroduktif dan sudah produktif agar lebih produktif lagi. Rekreasi spiritual artinya menghidupkan atau menyegarkan kembali suasana batin kita yang selama ini mungkin mengalami masalah karena tergerus oleh polusi duniawi yang begitu kuat. Dunia logika dan pikiran sedemikian dominan sehingga tidak ada lagi keseimbangan dengan dunia batin dan spiritual, akibatnya hidup terasa kering.  Ilmu yang banyak tidak membuat orang lebih arif, jabatan yang tinggi tidak lagi membawa berkah, hijaunya puncak tidak lagi menyegarkan, birunya laut tidak lagi menenangkan, gemerlapnya kota Paris tidak lagi mencerahkan, hotel berbintang tidak lagi nyaman, restoran mewah tidak lagi terasa lezat, pasangan pasangan lawan jenis tidak lagi menggairahkan, dan uang tidak lagi segala-galanya.

Jika suasananya seperti itu, biasanya alternatif dilakukan orang ialah rekreasi spiritual atau  retreat, meditasi, dan semacamnya. Di sinilah fungsi rumah-rumah ibadah sebagai tempat untuk meluruskan jalan pikiran yang bengkok, melunakkan jiwa yang keras, membersihkan hati yang kotor, menenangkan kalbu yang liar, menerangkan nurani yang redup, dan melembutkan sikap yang keras. Rumah ibadah adalah rumah Tuhan. Di dalamnya semua orang sama, tidak ada kelas, tidak ada  perbedaan warna, dan terasa betu di dalamnya bahwa The humanity is only one.

Jika seseorang datang dengan niat yang luhur, ingin berjumpa dengan Tuhannya, ingin mengeluhkan nasibnya, ingin memohon pertolongan dari-Nya, ingin diringankan beban hidupnya, dan ingin semua persoalannya selesai, maka rumah ibadah bisa menjadi media efektif utuk itu. Kita sering menyaksikan orang tertunduk pasrah bahkan tersungkur sujud di hadapan Tuhannya Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mengerti, Yang Maha Penolong, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Mnegabulkan, Yang Maha Lembut, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Luas, Yang Maha Memaksa, dan Yang Maka Sabr.

Tidak sedikit orang masuk di dalam sebuah rumah ibadah dengan segunung masalah, tetapi keluar gunung masalah itu berubah menjadi kapas-kapas yang beterbangan ditiup angina, wa takunul jibal kal íhnil manfus, istilah lainnya di dalam Al-Qur’an. Tidak sedikit orang yang masuk di dalam rumah ibadah merasa bagaikan tenggelam di dalam samudra frustrasi, tetapi keluar bagaikan naik ke puncak gunung optimisme. Tidak sedikit orang selalu merasa lonely dan kesepian, tetapi begitu masuk di dalam rumah ibadah, merasa berjumpa dengan Tuhan, dan keluar dengan ceria, karena orang yang selalu bersama Tuhan tidak akan merasa lonely. 

Rumah ibadah perlu diefektifkan untuk menjemput manusia-manusia modern yang sangat berpotensi krisis spiritual, rohani, jiwa, psikologis, atau apapun namanya. Rumah ibadah memiliki mahnit spiritual. Daya sedotnya luar biasa, yang mungkin sulit dirasakan di rumah atau di istana sekalipun. Tidak heran kalau Nabi pernah mengatakan bahwa shalat jamaah khususnya di masjid pahalanya lebih besar 27 kali dibanding shalat sendirian di rumah. Berjalan ke masjid menggugurkan 40 dosa dan menambah 40 pahala. Orang yang hatinya tergantung di masjid dijanjikan salahsatu villa peristirahatan di bawah Arasy, Padang Makhsyar, hari dimana mata hari tinggal sedepa di atas kepala selama berjuta-juta tahun, dan orang-orang berenang di atas keringatnya masing-masing.

II. Rumah Kemanusiaan

Mungkin kita semua pernah traveling dengan mobil, tiba-tiba kita terdesak untuk buang air. Kita meminta supir untuk mencari Pom Bensin, Masjid, atau  rumah ibadah”. Supir tentu sudah tahu maksudnya kalau ada orang mau buang hajat. Kita sering melihat orang menumpang tidur di serambi rumah ibadah untuk menunggu pagi, mungkin ia baru masuk kota dan tanggung check-in di hotel hanya untuk beberapa jam. Kita sering menyaksikan orang melangsungkan akad nikah, doa selamatan, walimatus safar di masjid karena mungkin rumahnya terbatas untuk menampung tamu lebih banyak. Rumah-rumah ibadah paling sering menampung korban banjir, korban kebakaran, dan gempabumi lainnya. Masjid juga sering digunakan untuk acara ta’ziah dan mnyalati jenazah yang alamt rumahnya sempit untuk dijangkau.

Kehadiran rumah-rumah ibadah di dalam masyarakat kita semakin fungsional. Bukan hanya untuk pelaksanaan ibadah ritual tetapi juga untuk acara-acara yang bertema kemanusiaan. Perkembangan positifnya, masjid dan mushalah sekarang sudah semakin sering dikunjungi oleh penganut agama-agama lain dengan tujuan seperti tadi. Gereja-gereja dan rumah ibadah lainnya juga sudah semakin sering dikunjungi umat Islam dan kelompok agama lain untuk menghadiri interfaith dialog, pengantinan, dan acara-acara social keagamaan lainnya. Sudah di jalan yang benar, rumah-rumah ibadah berfunsi sebagai rumah kemanusiaan.

Khusus untuk masjid dan mushalah, sejak awal memang diamksudkan sebagai multiguna. Mesjid Nabi sekaligus sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu. Baik tamu sahabat Nabi dari dalam kota Madinah maupun tamu-tamu dari luar negeri. Di dalam kompleks masjid ada namanya Ahlus shuffah, di mana sejumlah sahabat Nabi, sebutlah pegawai harian Nabi seperti Abu Hurairah, yang tinggal di tempat itu. Ada juga tempat khusus diperuntukkan kepada tamu-tamu yang datang dari jauh. Keperluan hidup dijamin di masjid untuk beberapa hari lamanya.

Kompleks masjid Nabi bukan hanya untuk umat Islam tetapi juga tamu-tamu lain non-muslim. Banyak sekali hadis dan sejarahnya, Nabi menerima rombongan tamu-tamu non-muslim diterima di masjid Nabi. Jelas mereka itu tidak dianggap najis oleh Rasulullah Saw. Bahkan Al-Qur’an menyebutkan anak cucu Adam adalah makhluk mulia dan harus dimuliakan, karena Allah pun memuliakan mereka, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam”. (Q.S. Al-Isra’/17:70).

Suatu ketika ada tamu dari pedalaman singgah di masjid Nabi. Tiba-tiba pemuda itu menghadap ke tembuk sambil kencing di dalam masjid nabi. Terang saja seluruh sahabat marah. Salahseorang di antaranya mencabut pedang untuk membunuhnya. Namun Nabi mencegat sahabatnya melakukan kekerasan di dalam masjid. Nabi menasehati, orang-orang pedalaman seperti pemuda itu mungkin menganggap hal itu wajar di kampungnya dan kalian tentu sebaliknya memandangnya tidak wajar. Nabi lalu meminta sahabatnya agar menimbun kencing pemuda itu dengan pasir, karena masjid Nabi ketika itu masih beralaskan pasir. Poin yang bisa diambil dari pengalaman ini, masjid adalah rumah kemanusiaan. Sekalipun manusia yang berlaku seperti binatang, sebagaimana dipraktekkan pemuda itu, tetap Nabi menganggapnya sebagai manusia. Perlu waktu dan kesabaran untuk memanusiakan manusia.

III. Basis Pengembangan Ekonomi Mikro

Rumah-rumah ibadah selalu mendekati masyarakat, bahkan berada di tengah-tengah masyarakat. Rumah ibadah merupakan lokus kesadaran paripurna setiap orang. Kesadaran komperhensif sangat tinggi nilainya di dalam masyarakat modern. Semakin banyak orang dalam era modern saat ini hanya terpicu mengembangkan kesadaran professional yang sangat spesifik, tetapi semakin tidak tertantang untuk mengembangkan kesadaran kolektif dan konperhensif, karena tidak langsung memberikan keuntungan secara ekonomi. Padahal, justru di sini awal dari sebuah persoalan besar jika jalan hidup atau world view dibangun di atas kesadaran parsial, dalam arti mengeliminir kesadaran universal-humanity itu.

Pengembangan ekonomi, baik makro maupun mikro, jika hanya dibangun di atas landasan profesionalisme, yang mengedepankan faktor untung-rugi semata, tidak mengintrodusir apalagi dengan sengaja mengeliminir kesadaran religious, maka wujud masyarakat yang akan lahir ialah sebuah masyarakat yang tentang dengan berbagai ketimpangan dan pada akhirnya rawan dengan berbagai kerawanan social. Yang kaya sudah barangtentu akan semakin kaya dan miskin akan semakin miskin. Keterbelahan social akan menghiasi wajah perkotaan, kemiskinan akan mewajahi pedesaan, dan pola konsumerisme akan didemonstrasikan oleh segelintir masyarakat di atas puing-puing penderitaan masyarakat miskin yang jumlahnya jauh lebih besar.

Rencana pengembangan ekonomi mikro berbasis rumah ibadah sangat strategis karena kultur keagamaan masih sangat kental di dalam masyarakat bangsa Indonesia. Betapa tidak, bukankah Rumah Ibadah itu terhimpun di dalamnya komponen-komponen inti masyarakat seperti pejabat, pemilik modal, LSM, sarjana atau orang-orang  pandai, seniman, pengangguran, anak-anak, dan orang tua. Di dalamnya berkumpun bersama antara produsen, distributor, dan konsumen. Di dalamnya berkumpul antara pemerintah, ulama, dan rakyat. Bukankah rumah-rumah ibadah itu umumnya berada di tengah-tengah masyarakat? Jika rumah-rumah ibadah digunakan sebagai sekretariat atau pusat pemberdayaan ekonomi mikro, maka hasilnya pasti luar biasa. Persaudaraan sebagai sesama jamaah yang sudah saling percaya satu sama lian, sebaiknya dimanfaatkan untuk membangun sesuatu yang lebih fragmatis di dalam komunitas tersebut.

Anggota jamaah pemilik modal menyisihkan sedikit modalnya, manajmen rumah ibadah sudah mendata-base para penganggur, dan profesional, pejabat pemerintah setempat ikut membantu memfasilitasi legalitas usaha yang dirintis, accountan public atau professional lainnya ikut menyumbangkan pikirannya, mungkin ada mahasiswa yang bisa diberdayakan di dalam komunitas tersebut, halaman dan space yang tersisa di sekitar rumah ibadah dapat dimanfaatkan, keuntungan yang diperoleh bisa membantu anak-anak yatim dan jumpo yang dibina oleh rumah ibadah. Dengan demikian, pengembangan ekonomi mikro yang berbasis rumah ibadah bisa muncul sebagai solusi dari berbagai permasalahan di dalam masyarakat. Orang-orang yang malas ke rumah ibadah akan lebih tertarik karena ternyata rumah ibadah bukan hanya membagi pahala tetapi juga membagi dividen. Bukan hanya menjanjikan keindahan syurga tetapi juga kesejahteraan dunia.

Mubazir kiranya sebuah rumah ibadah kalau hanya digunakan sebagai pusat ibadah ruitual. Mesjid dan mushalah saja sudah berjumlah sekitar 800.000 bertebaran di seluruh Indonesia. Belum lagi gereja, pure, kelenten, dan rumah-rumah ibadah lainnya. Bukankah fungsi utama rumah ibadah memanusiakan manusia dan menajdikannya sebagai manusia utuh.

IV. Rumah Ilmu Pengetahuan

Suatu ketika Nabi memberikan kuliah di masjid, tiba-tiba seoramg sahabatnya membawa sebuah temuan baru berupa lampu yang amat terang. Belum pernah ada lampu seterang itu di kota Madinah. Semua mata terperanjat menyaksikan temuan sahabat itu. Nabi memberikan apresiasi dengan beranjak dari tempat duduknya menyaksikan dari dekat temuan baru tersebut. Nabi sangat takjub dan memberikan dukungan penuh kepada sahabatnya. Yang lebih menarik ialah Nabi memberikan apresiasi secara emosional dengan mengatakan: Seandainya saya masih mempunyai anak perempuan maka akan saya kawinkan engkau dengannya.

Dalam saat yang berbeda, Nabi menerima delegasi kaum perempuan meminta agar pengajian dan bimbingan ilmu pengetahuan jangan didominasi kaum laki-laki, tetapi kaum perempuan juga diberi waktu khusus diajar oleh Nabi. Akhirnya Nabi memberikan jadwal khusus bagi kaum perempuan untuk menerima pelajaran darinya di masjid.

Ketika Perang Badar usai dimenangkan oleh pasukan umat Islam, para tawanan perang dikumpulkan di halaman masjid. Nabi meminta pandangan kepada sahabatnya tentang tawanan perang yang jumlahnya besar itu. Umar berpendapat, sebaiknya laki-lakinya diberlakukan hukum perang Arab, yakni dibunuh dan perempuannya diangkat jadi budak. Abu Bakar berpendapat lain, yaitu diklasifikasi berdasarkan bakat dan kemampuan tawanan perang tersebut. Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar dengan meminta para sahabat menyiapkan kelas-kelas masing-masing terdiri atas 20 orang. Tawanan perang yang ahli tukang besi, tukang kayu, dan ahli bikin senjata diminta memngajarkan kemampuannya kepada masyarakat Madinah tanpa membedakan agamanya. Kaum perempuan yang berminat tukang rias pengantin (salon) dan  menyamak kulit dicarikan tawanan perang yang bisa mengajarinya. Akhirnya masjid Nabi menjadi ramai dengan kegiatan belajar keterampilan. Hasilnya menakjubkan. Warga masyarakat Madinah terbebas dari buta keterampilan dan tawanan perang bebas dari pembunuhan dan perbudakan.

Di zaman keemasan Islam, masjid-mesjid digunakan sebagai sekolah dan pendidikan tinggi. Bahkan menurut Parof. Hamka, di dalam masjid di zaman dahulu ada universitas. Sekarang masjid di dalam universitas. Pusat-pusat kajian sampai pendalaman materi para guru dan syekh tetap dilaksanakan di dalam masjid sehingga ilmu pengetahuan yang lahir selalu berkah karena ruku dan unsur sujudnya selalu ada. Para ilmuan dan ulama yang lahir selain pintar juga arif dan bijaksana, karena di dalam rongga benaknya melebur antara semangat ilmiah dan semangat amaliah. Akhirnya terwujudlah ilmu amaliah dan amal yang ilmiah.

Ilmu pengetahuan berbasis rumah ibadah, khususnya masjid, pasti akan terhindar dari faham sekularisme karena faktor masjid (tempat orang sujud) ikut berpengaruh di dalam perumusan konsep dan penjabaran ilmu pengetahuan. Konstruksi dan ornament rumah-rumah ibadah yang indah serta memiliki serambi membuatnya sangat strategis sebagai pusat pemberdayaan keilmuan masyarakat.  Mesjid betul-betul menyatukan konsep dan pengamalan iqra’ + bi ismi Rabbik. Iqra’  tanpa  bi ismi Rabbik bisa menjadi malapetaka kemanusiaan. Hal yang sama juga bisa terjadi dengan bi ismi Rabbik tanpa iqra’. Para teroris banyak yang hanya bermodal ibi ismi Rabbik tanpa iqra’ akhirnya mereka dengan begitu gampang melenyapkan nyawa orang tanpa penyesalan, karena minimnya wawasan dan pengetahuan mereka. Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diketahui bahwa ternyata masjid bukan hanya rumah ibadah mahdhah tetapi juga rumah ilmu pengetahuan.

V. Menara untuk Meneropong Ketimpangan Sosial

Menara masjid adalah aksesoris masjid Nabi yang dibangun belakangan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Bilal akan menyampaikan azan, ia meminta izin kepada pemilik rumah yang lebih tinggi di samping masjid Nabi. Mungkin karena segan atau kuran pas selalu merepotkan pemilik rumah untuk membukakan pintu, terutama di waktu subuh, akhirnya dibangunlah menara masjid Nabi. Di atas ketinggian menara itulah Bilal selalu menyampaikan azan. Dari ketinggian menara ini juga sering digunakan untuk menyampaikan pengumuman penting, misalnya mengumpulkan para sahabat jika ada hal-hal penting untuk dibicarakan bersama Nabi. Lama kelamaan, menara masjid semakin penting artinya karena dapat juga digunakan untuk mengontrol pergerakan massa, termasuk dari kalangan musuh atau pengacau.

Menara Masjid Nabawi semakin penting artinya di kemudian hari, karena sudah dugunakan juga untuk mengontrol dari ketinggian, rumah-rumah mana yang dapurnya tidak pernah berasap, sebagai pertanda kemiskinan dan kekurangan pangan, dan rumah-rumah mana yang dapurnya selalu berasap sebagai pertanda kemakmuran dan kecukupan pangan. Kedua belah pihak dimediasi oleh Nabi atau sahabat. Mungkin yang daptnya tidak bernah berasap betul-betul serba kekurangan dan perlu bantuan dan sebaliknya sering ditemukan orang-orang yang dapurnya selalu berasap seringkali kafilahnya baru tiba dari rantaun dan membawa pulang berbagai jenis makanan. Dalam situasi inilah Nabi pernah bersabda: Merupakan suatu dosa jika masakan sempat tercium oleh tetangga dan diyakini masakan itu disukai juga oleh tetangga tetapi tidak dibagi kepada mereka.

Ternyata menara masjid dijadikan alat control untuk memperkecil jurang antara perut lapar dan perut kenyang, antara orang mislin dan orang kaya, dan antara kaum yang berpotensi untuk dibantu dank aum yang berpotensi untuk membantu. Dengan sendirinya menara masjid dapat meneropong rumah-rumah mana yang mewah dan mana yang kumuh. Sangat tidak lazim jika seseorang membangun rumahnya berlebihan kemewahannya sementara di samping masjid ada rumaha kumuh yang sesungguhnya tidak layak disebut rumah. Subhanallah, jadi menara masjid bukan hanya simbol gagah-gagahan untuk melengkapi kemewahan masjid atau  mushalah tetapi juga berfunsi social control dan kekuatan pemersatu umat.

Keberadaan menara masjid dalam kondisi sekarang tentu bukan lagi tempat untuk menyampaikan azan oleh muezzin. Sorang muezzin tidak perlu naik dari atas ketinggian, karena sound system di atap masjid sudah mampu menjangkau telinga Jemaah di sekitar masjid. Kita sering melihat jumlah menara bukan hanya satu tetapi dua atau lebih. Terkadang harga sebuah menara sama harganya dengan mesjidnya. Mungkin harga satu menara di satu tempat dapat digunakan untuk membangun satu atau dua masjid/mushallah di tempat lain yang sangat memerlukannya. Jika sudah punya satu atau dua menara untuk apa lagi membangun menara di setiap sudut, toh fungsi dan kegunaannya hanya untuk menyimpan sound system.

Menara masjid yang sudah terlanjur dibangun, sebaiknya deprogram untuk disewa oleh perusahaan telpon seluler dan semacamnya, yang membutuhkan space dan ketinggian tertentu untuk memperkuat jaringan usahanya. Biar hasilnya minimal untuk bisa membiayai kesejahteraan imam dan pegawai masjid, atau untuk kesejahteraan jamaah di sekitarnya.

VI. Tempat Memperoleh Hiburan Kesenian

Rumah ibadah banyak digunakan untuk mendapatkan kepuasan dan hiburan berupa kesenian, terutama seni religius. Mesjid Nabi misalnya, banyak sekali dijelaskan dalam hadis-hadis shahih digunakan sebagai tempat pertunjukan seni. Di antara hadis-hadis tersebut antaralain:

  1. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah yang menceritakan dua budak perempuan pada hari raya ‘Id (Idul Adha) menampilkan kebolehannya bermain musik dengan menabuh rebana, sementara Nabi dan Aisyah menikmatinya. Tiba-tiba Abu Bakar datang dan membentak kedua pemusik tadi, lalu Rasulullah menegur Abu Bakar dan berkata: “Biarkanlah mereka berdua hai Abu Bakar, karena hari-hari ini adalah hari raya”.
  2. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah yang mengatakan: “Saya melihat Rasulullah Saw dengan menutupiku dengan surbannya sementara aku menyaksikan orang-orang Habsyi bermain di mesjid. Lalu Umar datang dan mencegah mereka bermain di mesjid, kemudian Rasulullah berkata: “Biarkan mereka, kami jamin keamanan wahai Bani Arfidah”.
  3. Dalam riwayat Muslim dari ‘Aisyah disebutkan kelompok seniman Habasyah itu menampilkan seni tari-musik pada hari Raya ‘Id di mesjid. Rasulullah memanggil ‘Aisyah untuk menyaksikan pertunjukan itu, kepala ‘Aisyah diletakkan di pundak Nabi sehingga ‘Aisyah dapat menyaksikan pertunjukan tersebut.
  4. Dalam kitab Ihya’ ’Ulumuddin karya monumental Imam Al-Gazali ada suatu bab khusus tentang pentingnya seni di dalam Islam. Ia mendasarkan pandangannya pada beberapa event penting pada masa Rasulullah selalu diisi dengan seni musik, seperti membiarkan orang melantunkan nyanyian dan syair ketika menunaikan ibadah haji, ketika prajurit melangsungkan peperangan dilantunkan tembang-tembang perjuangan untuk memotivasi prajurit di medan perang, nyanyian yang dilantunkan merasakan kesedihan karena dosa yang telah diperbuat, seperti dikutip Nabi Adam dan Nabi Dawud menangisi dosa dan kekeliruannya dengan ungkapan-ungkapan khusus, nyanyian untuk mengiringi acara-acara kegembiraan seperti suasana hari raya, hari perkawinan, acara ‘aqiqah dan kelahiran anak, acara khitanan, pulangnya para perantau, dan khataman Al-Qur’an. Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi, sebagaimana dikutip Al-Gazali, menceritakan behwa ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, para perempuan melantunkan nyanyian di rumahnya masing-masing:

Telah terbit bulan purnama di atas kita, dari bukit Tsaniyatil Wada’. Wajiblah bersyukur atas kita, selama penyeru menyerukan kepada Allah.

Indonesia sangat kaya dengan seni lokal dengan demikian seni lokal Islam berpotensi mengisi seni dan peradaban Islam. Unsur lokal tidak mesti harus berhadapan dengan unsur universalitas Islam, tidak mesti diharamkan masuk mesjid, karena unsur universalitasnya cukup elastis dan dapat mengakomodir kearifn-kearifan lokal. Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam dapat diakomodir sebagai kekayaan Islam. Ini sesuai dengan hadis: al-Hikmah dhalah li al-mu’min fahaitsy wajadaha fahuwa ahaqq biha (Hikmah dan kebajikan milik Islam, di manapun engkau menjumpainya ambillah karena itu milik Islam). Rumah-rumah ibadah memilki kekuatan selektif untuk menyaring kesenian mana yang layak untuk ditampilkan di dalamnya.

VII. Pusat Pengabdian Masyarakat

Rumah ibadah hadir bukan hanya sebagai pusat pengabdian manusia kepada Tuhan tetapi juga sebagai pusat pengabdian kepada masyarakat. Dengan kata lain, rumah ibadah bukan hanya tempat untuk melayani Tuhan tetapi juga untuk melayani manusia. Bahkan masjid di masa Nabi lebih sering digunakan sebagai pusat pelayanan pada masyarakat ketimbang tempat penyembahan terhadap Tuhan dalam arti ibadah mahdhah.

Bayangkan Masjid Nabi yang kemudian poluler disebut Masjid Nabawi (Prophetic mosque) digunakan untuk hal-hal yang sulit dibayangkan oleh pengelola mesjid kita sekarang. Selain ketujuh fungsi rumah ibadah yang telah diuraikan, Masjid Nabi juga digunakan sebagai tempat konsultasi Nabi dengan umatnya, baik konsultasi pribadi untuk masalah masalah-masalah kerumahtanggaan maupun untuk masalah-masalah politik dan pemerintahan. Masjid Nabi juga digunakan sebagai tempat penyampaian informasi publik, misalnya untuk mengunumkan pernyataan publik Nabi, baik kapasitasnya sebagai Nabi/Rasul maupun dalam kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan/negara. Maklum dahulu di zaman Nabi belum ada media efektif untuk menjangkau umat lebih luas selain masjid.

Masjid Nabi juga digunakan sebagai tempat untuk menyalurkan santunan sosial, misalnya sesama jama’ah mengumpulkan bantuan untuk jamaah lain yang kurang mampu. Zakat, shadaqah, infaq, jariyah, hibah, hadiah dan bantuan lainnya disalurkan kepada masyarakat yang berhak mrelalui mesjid. Di masjid Nabi ada gudang pangan yang pertanggung jawabannya diserahkan kepada Abi Hurairah, tersimpan di samping Bait Ahl al-Shuffah, tempat hunian Abu Hurairah dan kawan-kawan yang juga sekaligus bertugas memelihara kebersihan dan ketertiban masjid.

Masjid Nabi digunakan untuk mengontrol kondisi dan keadaan umat. Baik secara perseorangan maupun kolektif. Orang yang sakit perut bisa terdeteksi di masjid. Jika tiba-tiba jamaah Nabi tidak hadir tanpa ada laporan dipertanyakan kepada tetangganya. Kalau ketahuan sakit maka jamaah lain menziarahinya. Jika ada anggota jamaah masjid absen maka satu sama lain mempertanyakan keberadaan dan keadaannya. Jika mereka sedang kesulitan maka jamaah masjid bergotongroyong membantunya. Luar biasa mesjid Nabi sebagai perekat umat dan warga masyarakat.

Manajmen masjid Nabi untuk ukuran zamannya bisa dianggap terlalu modern. Bayangkan masjid seperti itu sudah bisa menyelenggarakan sesuatu yang besar. Kota Madinah yang relatif kecil tetapi dipadati oleh pengungsi dari mana-mana mengikuti Nabi. Bukan hanya kaum muhajirin dari Mekkah tetapi dari etnik dan suku lain. Meskipun demikian Madinah tetap servive khususnya masjid Nabi tidak tidak pernah menolak para pengungsi, selalu ada saja jalan keluar, meskipun Nabi sendiri harus menjalani kehidupan sederhana, bahkan sangat sederhana. Kulit belakangnya sering kelihatan bekas tikar kasar, jauh dari kasur yang empuk. Padahal beliau adalah bukan hanya Nabi dan Rasul tetapi juga Kepala Negara Madinah.

Kehadiran masjid Nabi betul-betul sebagai solusi dari berbagai persoalah umat dan warga Madinah tanpa membedakan agama dan etnik. Yang dibantu Nabi Madinah bukan hanya umat Islam tetapi juga umat lain. Suatu ketika ada umat Nashrani tidak memiliki rumah ibadah, sementara mereka sangat membutuhkannya, maka Nabi menghimbau agar umat Islam yang memiliki kemampuan agar membantu membangunkan gereja dengan cara hibah, bukan  wakaf atau jariyah. Sampai sedemikian itu Nabi menyayangi warganya, sekalipun berbeda agama.

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam buku Merayakan Milad Istiqlal, terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud, 2017 dan merupakan bagian awal dari buku tentang hakikat dan fungsi masjid yang akan terbit dalam waktu dekat.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto oleh Iwan Strocaster